Hampir di setiap langkah kaki ini melangkah, tak pernah ada kebahagiaan yang dapat saya rasakan sangat mendalam. Setiap kebahagiaan itu hadir dalam hidup saya, selalu saja ada titik hitam yang menodai kebahagiaan yang amat tulus itu.
Sedih?tentu saja. Tidak pernah ada kebahagiaan yg sempurna.
sejak Mata ini terbangun sejenak dari tidur untuk melakukan aktivitas, hati ini tak pernah tenang.
Hanya keluhan di pagi hari yang selalu mengotori hati ini!
"haah.. harus kuliah pagi lagi! truz nanti jam 1 ada tugas kelompok, jam 5 ada rapat, terus harus ke doter buat cek up!"
Dan masiiiih banyak lagi keluhan yang selalu terucap dari hati ini!
Padahal, saya tahu, masih banyak orang diluar sana, yang putus asa tak ada harapan untuk hidup. Karena penyakit ganaslah, kekurangan uang untuk makan, harus ngamen lah, harus mendorong gerobak di pagi hari, dan masih banyak orang yang kurang beruntung di luar sana!
Setiap pagi, ketika hendak sarapan pagi, saya selalu teringat orang-orang yang tidak punya uang sepeser pun untuk makan, harus menahan rasa laparnya itu! Inilah yang saya sebut tak ada kebahagiaan yg sempurna. Walaupun saya sarapan dengan menu yang terlezat dan belum pernah saya santap sekalipun, saya tidak pernah bisa merasakan kenikmatan makanan tersebut.
acara yang disiarkan oleh trans tv setiap hari minggu yakni "Jika Aku Menjadi" selalu menjadi renungan rutin untuk hati ini! Dari situlah, saya merasa Tuhan Sang Maha KUasa mengetuk hati ini untuk segera beranjak melakukan sesuatu. Namun, tubuh ini serasa beku seperti di kutub utara. Hanya tangisan yang dapat saya keluarkan tapi tak berarti apa-apa...
Pada edisi 2 minggu yang lalu, saya melihat, ada seorang pemerah susu sapi di desa terpencil, yang hanya berpenghasilan 15 ribu untuk 2 minggu dan beliau harus mengidupi keempat anaknya dan kelima cucunya. Sedih hati ini.... Tak bisa dibayangkan! Setiap harinya, ia hanya makan nasi dengan garam! Hanya itulah yang dapat ia makan setiap harinya. Sedangkan jauh diluar desa tersebut, yang salah satunya adalah di daerah sekitar kita, banyak sekali yang dengan begitu mudah membuang makanan mereka! Padahal, harapan dari keempat anaknya dan kelima anaknya adalah hanya untuk makan enak sekali saja! Saya tegaskan, hanya ingin sekali saja... Permintaan hati mereka tidaklah merupakan permintaan yang sulit, tapi sampai sekarang ia belum pernah merasakan hal itu. Menyaksikan tayangan ini, saya merasa ditampar oleh Sang Maha Kuasa!! APa yg sudah saya berikan untuk mereka>? tidak ada.. Hanya kesenangan dan kebahagiaan yang tak berarti yang biasa saya lakukan.
Seperti kata Bentham dalam buku (Bertens, 2005) yang mengatakan bahwa "the greatest happiness of the greatest number". Kebahagiaan itu adalah mencakup kebahagiaan orang banyak. Sehingga kita tidak pernah boleh mengatakan kebahagiaan satu orang lebih penting daripada kebahagiaan orang lain. Begitu pula dengan yang biasa kita rasakan dan lakukan. Kebahgiaan yang selama ini kita rasakan, itu belum lah dapat dikatakan sebagai sebuah kebahagiaan, karena sampai detik ini masih banyak orang-orang di luar sana yang menangis, meringis karena lapar. Sedangkan kita?? hanya bahagia untuk diri kita sendiri yang tak berarti apa-apa. Dan sampai saat ini pula, saya belum pernah merasakan kebahagiaan yang utuh itu. Kebahagiaan yang dapat menjadi kebahagiaan untuk orang banyak........ saya ingin merasakan kebahagian itu! Tapi kapan? Dan mungkin saja, saya tak akan pernah merasakannya.........
Rabu, 09 April 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar