"Seandainya, aku boleh menikah dengannya.."
Ungkapan ini , selalu berlari di pikiran saya.
Jika boleh waktu menjawabnya, tentu saja, saya akan memohon dengan amat sangat agar dapat menikah dengannya.
Perasaan ini muncul ketika salah satu sahabat terbaik saya, divonis terkena Kanker tulang atau Osteosacroma.
Walaupun dia adalah senior saya, tetapi perbedaan usia ternyata tidak menjembatani kedekatan saya dengannya.. Ia sudah saya anggap sebagai kakak saya sendiri.
Sebelumnya, ikatan pertemanan saya dengan beberapa teman lelaki tidak pernah sedekat ini. Selalu saja, terpisahnya jara semakin memisahkan dan membentuk jurang di dalam persahabatan saya dengan mereka.
Tapi, dia sosok yg berbeda...
Sebut saja namanya "Randy"
Kini dia adalah mahasiswa arsitektur UGM dan sedang duduk di semester 4. Namun ketika ia divonis penyakit mengerikan itu, ia harus terbaring di Rumah Sakit menahan segala penderitaan yang ia rasakan. Tubuhnya yg tidak terlalu besar dan cukup mungil itu, adalah anak kebanggan kedua orang tuanya. Saat saya menjenguknya, orang tuanya selalu bercerita kepada saya bahwa randy adalah anak yang sangat penurut. Walupun ia sudah SMP, ia tidak malu membawa bekal dari rumah. Sedangkan beberapa anak lelaki lain, sangat gengsi membawa bekal, dan sering menyebutnya "anak mama".
Randy kini tak bisa berbuat apa-apa lagi. Hanya pujian dan doa yg selalu ia Ucapkan di tiap detik kehidupannya sekarang.
Wajahnya yang cukup tampan, kini terlihat sangat pucat dan tidak berdaya.
Saya pun tak kuasa melihat penderitannya.
Ingin sekali saya memeluknya dan sedikit mengurangi segala beban yg kini ia rasakan. Sempat terbesit dalam pikiran saya untuk menikahinya dan merawatnya dengan sepenuh hati. Randy butuh kasih sayang dari semua orang disekitarnya. Pacarnya telah memutuskannya, saat ia berada dalam kondisi yang amat kritis. Selain rasa sakit yang melanda fisiknya, ia juga harus menahan rasa sakit perasaannya!!
Setelah menjalani kemoterapi, kini kepalanya sudah botak karena panasnya obat-obatan tersebut. Hati saya semakin terkikis dan menambah kuat keinginan saya untuk menikahinya. saya hanya ingin merawatnya dengan sepenuh hati saya. Saya hanya tidak ingin melihatnya sedih, menangis , menahan rasa sakitnya. Namun, itu semua tak mungkin....
Saya pun berpikir, jika ke2 orang tua saya tahu bahwa saya ingin menikah dengan Randy, hal itu justru akan memukul hati ke2 orang yg sangat saya cintai dan sayangi.
Hanya doa yang saya panjatkan di setiap nafas saya dan memohon kemukjizatanNya agar Randy diberikan kesembuhan oleh-Nya.
saya hanya ingin melihat Randy tersenyum kembali, seperti yang selalu ia lakukan kepada saya saat saya terperosok dalam kesedihan..
Kamis, 10 April 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar